CONTOH KASUS TERKAIT UU ITE PASAL 27 AYAT 4
PENIPUAN & PEMERASAN oleh OKNUM ‘POLISI’ BERKEDOK KASUS NARKOBA
PENIPUAN & PEMERASAN oleh OKNUM ‘POLISI’ BERKEDOK KASUS NARKOBA
Tepat hari Senin jam 13.50 saya tiba di rumah dari Manokwari, datang langsung menyimpan tas dan menyapa anak saya yang sedang diasuh sama ‘ammahnya, waktu itu sang ummi sedang mengajar mahasiswanya di UHAMKA kampus Gandaria.
Singkat cerita, malam itu yang seharusnya saya datang rapat kesiapan aksi hari ini (27/03), urung berangkat karena ternyata malam itu ada acara keluarga yaitu ultah kaka ipar saya yang ke-29, agenda itu memakan waktu sampai jam 23.00 WIB, sehingga saya, anak & istri serta semua penghuni rumah tidur terlelap karena sudah seharian beraktifitas.
Kejadiannya, ketika waktu menunjukan pukul 03.30 WIB, tiba-tiba telpon rumah berdering, yang pertama kali mengangkat adalah ibu mertua, kami biasa memanggilnya dengan mama, terjadilah dialog antara Sang Penelpon dengan mama, memang biasanya kalau ada telpon malam-malam (diluar waktu kebiasaan komunikasi) berarti ada sesuatu yangurgen seperti: kabar sakit, meninggal, atau yang sifatnya butuh bantuan.
Sepintas saya mendengarkan dialognya seperti ini:
Mama: halo,,ini siapa?
‘Polisi’: kami dari kepolisian reserse NAKOBA, Reza anak ibu ditangkap polisi? (dengan nada dan logat menyakinkan khas polisi, karena memang saya juga banyak memiliki teman dari teman-teman reserse)
Mama: Reza? Ah,,Reza bikin heboh aja? Kecelakaan dimana? (memang Bang Reza ini sering pulang larut malam karena aktifitas dakwah dan bisnisnya, sehingga suka mengantuk kalau pulang bawa kendaraan sendiri, dulu memang pernah terjadi peristiwa yaitu menabrak tukang jagung rebus yang didorong pake gerobak)
Intinya percakapan antara mama dan ‘Polisi’ yang mengaku polisi tidak nyambung dan ‘ngalor-ngidul’ karena memang mama kaget dalam kondisi bangun tidur (shock) mendapatkan kabar di luar yang diduga, akhirnya Istri saya bangun untuk menemani, awalnya saya anggap sebagai berita bahwa istrinya bang Reza (abang ipar saya) dalam proses persalinan karena memang sedang menunggu hari. Karena kondisi mama sudah panik akhirnya saya bangun dan mama menyerahkan telepon itu ke saya, terjadilah dialog panjang:
‘Polisi’: maaf , saya bicara dengan siapa?
Saya: saya Ahmad Syahril, adik iparnya Bang reza,, kalau bapak siapa namanya?
‘Polisi’: saya Irwansyah, harap jangan panik, saya dari resese Narkoba Polda, kami sedang menggerebek kost-kostan, tertangkap 3 orang salah satunya adalah bernama Reza tertangkap tangan mengantongi Narkotika jenis sabu-sabu., Tapi dia bilang ditipu temannya. Terkena pasal 6. Apakah abang anda orang baik?
Saya: dia orang baik,,saya yakin dan dan saya jamin (karena memang abang ipar saya seorang ustadz, aktifis Islam yang taat beribadah, seorang imam masjid, satu-satunya alibi yang bisa diterima adalah karena rekan bisnisnya, tapi rasa-rasanya rekan bisnisnya pun rata-rata orang baik dan teman seperjuangannya)
‘Polisi’: apakah abang anda perokok?
Saya: tidak,, dia orang baik..boleh saya bicara dengan abang saya?
‘Polisi’: reza,,kesini (‘Polisi’ memanggil ‘abang’ saya),,
‘abang’ saya: ril..abang dijebak teman…(dengan suara menangis terbata-bata)
Saya: abang tenang aja,, nanti syahril bantu…
‘Polisi’: maaf, saya tidak ada waktu banyak, sayhril punya HP? Saya hubungi anda pake HP? (diiringi dengan sirine polisi)
Saya: punya, ini nomornya 0852xxxxxxxx
Terjadilah dialog d HP, dengan kondisi rumah ‘mencekap’ antara percaya dan tidak percaya..
‘Polisi’: oke saya telpon pake HP, apa kah sudah masuk?
Saya: ya sudah…(istri saya yang mengambil HP itu dan ‘Polisi’ itu menggunakan nomor+285227479308) tepat pada pukul 03.40 WIB
‘Polisi’: oke,,sebentar lagi smua akan dibawa ke POLDA, pimpinan saya meminta saya untuk menanyakan ke pihak keluarga untuk menanyakan penyelesaian kasus ini, kami akan siap membantu, coba rundingkan di keluarga apakah mau pakai jalur hukum atau kekeluargaan? 2 pelaku sudah ada jaminan dari keluarga masing-masing 35 juta, sekarang sudah terkumpul 70 juta, sedangkan pimpinan saya untuk kasus narkoba minimal jaminan 150 juta untuk 3 orang. Apakah anda bersedia?
Saya: oke,,kita pake jalur kekeluargaan,,tapi saya harus rundingkan dengan keluarga dulu…lebih baik kita bertemu saja dirumah?
‘Polisi’: kamu ini ngatur saya?! Saya ini coba bantu keluarga kamu!
Saya: oke,,sekarang intruksinya dari bapak!
‘Polisi’: Biar kita masa-sama enak, karena ini juga untuk keamanan kita..khawatir ini terekspos oleh wartawan,,jangan terlalu ribut di keluarga.. jangan terlalu lama! Pimpinan saya sudah menelpon terus!
Saya: iya,, saya butuh waktu untuk cari uang, cari bantuan, bicara sama keluarga bagaimana baiknya! Ini coba bicara dengan mama saya!
‘Polisi’: oke,,saya kasih waktu 5 menit..
Seisi rumah jadi panik,,,ada yang bilang jangan telpon istrinya karena sedang hamil takutshock, tapi akhirnya ka Vera yang tadi malam baru saja ultah meminta Bang Zaki untuk menelpon istrinya melalui HP,,
Bang Zaki: assalamu’alaikum,,,
Ka Enah (Istri Bang Reza): Wa’alaikum salam (dengan nada yang masih mengantuk),, ka enah juga membangunkan Bang Reza yang sedang tidur,,menyampaikan tiba-tiba ada telpon dari bang Zaki,,
Bang Reza: ada apa Zak (panggilan Bang Zaki)
Bang Zaki: abang lagi apa?
Bang Reza: TIDUR…..(untuk meyakinkan dan mengamankan rumahnya bang Reza, Bang Zaki berangkat kerumahnya bang Reza)
Diantara dialog singkat antara Bang Zaki dengan Bang Reza, saya antara ‘Polisi’ tetap bernegosiasi, saya terus beralasan ingin diskusi dulu dengan keluarga,, dan jawaban saya butuh hal ini9 disampaikan ke mama (pada waktu itu saya masih belum dapat jawaban fix bahwa Bang Reza ada dirumahnya)
‘Polisi’: ril,,Jangan lama-lama ..pimpinan saya sudah menelpon terus..(sambil terus menyakinkan agar percakapan ini terjaga dan hati2, karena ini mempertaruhkan nama baik institusi)
Terjadilah dialog dengan ibu mertua saya:
Mama: pak,,anak saya ustadz tidak mungkin melakukan itu,, dia orang baik,,kasihan anak-anaknya jangan ditangkap pa..(dengan nada sedih dan memelas dan Hp dikembalikan ke saya), sambil istri saya membuat secarik tulisan pakai spidol : BANG REZA ADA DI RUMAH SEDANG TIDUR! Nah, dari situ malah saya berbalik ‘menipu’ dan ‘memainkannya’ !
Saya: saya minta waktu untuk mencari solusi,,saya hanya punya uang cash 500 ribu!
‘Polisi’: apa 500ribu? kalau gitu pake jalur hukum saja!
Saya: pak,, tolong bantau kami, kami sedang berusaha!
'Polisi' : oke saya bantu tapi tolong jangan matikan HP, biar saya bisa pantau kamu, biar pimpinan saya tau saya sedang berkomunikasi dengan keluarga anda!
Saya: oke…( dalam hati saya bergumam…loch qo ga boleh dimatikan)
‘Polisi’: ada berapa dari keluarga kamu yang bisa dikumpulkan?kamu punya kartu transaksi ATM?
Saya: gak punya,,saya orang miskin!
‘Polisi’: syahril ! cepetan, waktu sebentar lagi! Bisa kirim 15 juta dulu?
Saya: wah besar sekali,, saya harus pinjam dulu itu kesaudara atau teman saya..
‘Polisi’: jangan lama, ambil keputusan cepat, kalau gak bisa, saya bawa saja abang kamu ke POLDA pake jalur hukum
Saya: sebentar pa,,kami sedang berusaha..berikan kami waktu..
‘Polisi’: kalau begitu saya beri waktu 10 menit,,
Saya: wah gak cukup pa..saya kan harus punya alasan untuk bisa dapat pinjaman..
‘Polisi’: kalau bisa kamu mimjam jangan sama saudara, bakal lama,,nanti kamu ditanya ini itu..kira2 berapa lama kamu ketempat yang mau dituju?
Saya: 30 menit pa…
‘Polisi’: 20 menit saja, kalau tidak terpaksa saya bawa abang anda ke POLDA…
Saya: wah pa…belum saya manasin motor dulu,,motor saya motor jadul..
‘Polisi’: intinya jangan dimatikan HPnya…
Saya: iya pa…
Disela-sela itu saya sedikit istirahat, capek juga ‘ngeladenin’ orang gila,,disela-sela itu pula ‘Polisi’ itu memanggil-manggil nama saya kadang berucap halo-halo… untuk memastikan bahwa saya akan jalan mencari pinjaman uang…nah, disela-sela waktu saya sedikit rileks, istri saya mengingatkan saya untuk direkam..akhirnya saya merekam pembicaran singkat itu…
‘Polisi’: halo..halo…kamu lagi apa?
Saya: saya baru selesai pake baju dan jaket,,,ini mau manasin motor dulu…
‘Polisi’: gak usah rapih-rapih…kaya mau berangkat kerja saja!
Saya: iya pa…
‘Polisi’: halo..halo,,,kamu sedang merekam percakapan kita ya!
Saya: merekam apa pa?
‘Polisi’: percakapan kita!
Saya: ga pa..HP saya HP jadul..HP lama,,ga bisa merekam!
Selang beberapa jam kemudian,,karena waktu kurang lebih 10 menit lagi akan azan subuh, Bang Reza dan keluarga datang,, saya pun langsung memberikan HP itu ke Bang Reza karena mau siap-siap shalat subuh…
Bang Reza: halo..
‘Polisi’: ini siapa?
Bang Reza: saya REZA, ada apa?
‘Polisi’ langsung mematikan HPnya..!
Sebenarnya saya ingin melanjutkan ‘dialognya’ agar sampai ‘Polisi’ membimbing saya ke ATM untuk transfer sejumlah uang agar mendapatkan account pemilik rekening, biar bisa dijadikan alat bukti untuk melapor polisi & pemblokiran rekening banknya
Setelah selesai solat subuh kami berniat untuk melapor ke Polisi untuk mengkalrifiaski apakah ini ‘oknum’ atau bukan,,,dan memastikan untuk segi keamanan dilingkungan kami berada. Setibanya disana, saya langsung menuju ruang pengaduan masyarakat, diterima baik oleh petugas, kami menceritakan kronologinya, tapi ternyata sang petugas malah berbalik ‘curhat’, pengakuan dirinya juga pernah ditelpon seperti itu,temannya dengan kasus ‘tabrakan’, bahkan yang lebih mengagetkan lagi, pimpinannya sampai tertipu 15 juta,,dan kami pun diarahkan ke Polres atau polda, karena hanya polda yang memiliki alat mendeteksi hasil telpon tersebut.